BUATLAH KEBIJAKAN EKONOMI PRO RAKYAT

Dalam sebuah dialog di praha tahun 2018 steve bannon menceritakan bagaimana Trump menjadi POTUS. Dialog ini biasa saja bagi sebagian orang tetapi bagi saya penggemar geoekonomi saya menarik stabillo warna merah atas sebuah kalimat, “kami menyamakan “level playing field”” sehingga kami menang.

Kalimat inilah yang menjadi alasan analisa saya sehingga jadi memahami apa yang dimaksud dengan team trump untuk kebijkan luar negeri yang akan menguntungkan amerika. Saya jadi mengenal isi kepala pompeo, Bolton, shanahan dalam strategi “perang dengan china”.

Amerika versus china saat ini bukan perang dagang tetapi PERANG IDEOLOGI.

Ini yang banyak analis ekonomi salah baca. Dikira china dan amerika itu perang dagang, perang ekonomi. Hanya karena merasa seperti nya amerika kalah dengan impor china yang besar masuk ke amerika sehingga pasang tariff masuk tinggi agar harga barang china mahal.

Negara amerika untung dari tariff pajak masuk barang china dan juga berimbas produk hasil manufaktur di amerika jadi bisa berjualan karena harga mereka kompetitif. Kalau tidak di “protect” di lindungi dengan pajak import tinggi harga barang amerika mahal, lebih baik beli barang china.

Begitu sebaliknya, di balas china dengan impor masuk barang amerika ke china di naikan. Ternyata bukan itu, ini perang yang lebih dalam lagi, yaitu perang ideology.

Kalau sudah ideology itu “by all mean” atau berapapun harganya di tebus. China dan amerika akan habis habisan perangnya.

Kesederhanaan berfikir di era orang yang polos mengelola Negara bisa di analogikan persis seperti Indonesia melihat Freeport. Indonesia merasa kurang besar keuntungnya sehingga “harus mengambil porsi” dengan cara beli saham, agar kepemilikan perusahaan naik di perusahaan Freeport.

Sebuah tindakan Negara ke korporasi atau G to B itu aneh. Negara kok sejajar korporasi??!!, pajakin aja 5 kali lipat, selesai masalah ngak usah bayar triliunan untuk dapat uang tambahan. Oh tetapi mungkin saking sederhananya berfikir atau memang para menteri nya punya kepintaran sendiri. monggo di lanjut.

Sama, melihat china amerika bersitegang pejabat negera komentar, oh Cuma perang dagang dua Negara.

Ealaaahhh, malu bener kalau sudah denger opini seperti begini. Asli malu saya. ngak ada kedalaman analisanya, ngak ada kedalaman keilmuannya. Ambil gampangnya saja dah, toh rakyat ngak ngerti.

Hati-hati om, semua bisa berubah dalam hitungan bulan, bukan tahun.

Kembali kepersamaan lantai permainan. Ideology amerika adalah demokrasi , ideology china adalah state capitalism. Amerika adalah swasta murni, china adalah “government driven”.

Ini level playing fieldnya beda banget. Amerika ingin menerapkan demokrasi sebagai landasan berdagang dan menggunakan alat penekan tariff masuk tinggi ( terlebih dahulu). Amerika sangat anti dengan state capitalism karena untuk menegakkannya harus menggunakan “state authoritarian” atau menggunakan kekuatan pemerintahan represif “tangan besi” menekan pasar mengunakan kekuatan Negara. Negara bisa jadi fasis sehinga “pasar bebas” tidak ada.

Gaya “heavy on government dan less to private “ atau semuanya nya pemerintah dan kurangnya peran swasta adalah ideology yang harus di terapkan jika mereka menggunakan dana OBOR china. Harus government driven. Itu terjadi di srilangka, afrika, papua new gueinea dan Indonesia, eh ngak lah, Indonesia ngak geblek gitu bener ngak?!!

Framework demokrasi ekonomi dan state driven ekonomi ini dua ideology berbeda yang menjadi titik perang awal. Ini perang baru dan senjatanya tidak pakai “bedil” tetapi pakai perang tariff dan perang dagang ( sekali lagi awalnya).

Apa yang terjadi kalau ternyata membuat banyak kerugian yang meluas bukan di dua Negara tetapi di Negara aliansi mereka. Yaitu mana “kamerad” nya?. Ternyata perang ini berkepanjangan saat ini, masing masing “teman” mulai merasakan kerugian karena sumber bahan baku mulai tidak di serap kedua Negara produsen itu.

Atau menjadi kebalikan, yang tadinya mereka ambil bahan baku malah di jadikan pasar para aliansi itu karena produk mereka tidak keserap dua Negara perang tadi. Indonesia kebajiran barang china misalnya karena Indonesia ambil posisi aliansinya dnegan china. Eh salah ya? Indonesia kebajiran barang amerika..ah ngak tahu lah mana aliansi Indonesia? Tolong bantu saya di pihak mana ya Indonesia itu aliansinya?

Atau gini aja biar gampang melihatnya, Negara mana yang seakan membantu Indonesia tetapi setiap membantu selalu minta “government guarantee” . kalau hal itu di lakukan namanya itu ideologi “state capitalism”.

Mana Negara kalau masuk kesebuah Negara hanya swastanya saja, jadi deal-nya B to B atau business to business itu namanya democratized market . pasar bebas.

Saya kalau secara pribadi anti pasar bebas tetapi pendukung “fair trade” dan semua sahabat tahu saya anti “state capitalism”. Jadi saya anti IMF saya anti OBOR. Jelas ya posisi saya. kembali ke topic perang ideology. State capitalism dan swasta pasar bebas.

Tindakan amerika melindungi swastanya, tindakan china melindungi komunisnya.

Jadi yang merugikan Indonesia dalam jangka panjang kedepan adalah “foreign policynya”.kebijakan luar negerinya yang di ikuti dengan kebijakan ekonomi luar negeri. Jadi kalau dolar tembus 15.000, kalau minyak tembus 80 dolar per barel itu bukan pasar loh ya, itu “by design”. Faham ya?.

Atau kalau produk Indonesia tidak di serap pasar eropa nato, amerika, juga aliansi amerika di indopasific yaitu singapura, korea selatan, jepang dan Australia juga faham khan?

Sawit di tekan, batubara di tekan, semua barang ekpor Indonesia di tekan dimana mana kecuali aliansi non amerika yang ambil barang Indonesia walau pun kita korban “dumping barang china” maka terjawab mengapa Indonesia deficit, imprt lebih besar dari ekspor?!! Mulai faham?

Kira kira berapa lama Indonesia bisa tahan ekonominya tanpa bergantung campur tangan asing aseng? Jawabnya hampir tidak bisa tahan. Minyak BBM tergantung kebaikan hati amerika karena kita impor dari selat hormuz wilayah armada amerika 50% dari kebutuhan nasional.

Jadi kedepan, hentikan proyek apapun yang menggunakan dan asing atau teknologi asing. Bayangkan, membangun itu perlu besi dan besi kebutuhan nasional normal saja sudah impor apa lagi untuk proyek?!!. Padahal ferro atau pasir besi indonesia yang ekpor bahan bakunya ke “sana” lalu balik lagi berupa pig iron dan billet sebagai bahan baku pabrik besi kita. Memang bahan baku Krakatau steel ngak impor? impor lah!, Kemana aja kok ngak tahu sih?

Karena billetnya impor sekalian saja besi ulir dan besi betonnya impor lebih murah, ya iyalah. jadi aja jrakatau steel nya nganggur atau harga besi nya lebih mahal.

Jadi stop membangun yang ada unsur asingnya, membangun harus 100% produk local pendanaan local. Kalau ngak ada uangnya jangan di paksakan. Kalau ekonomi masih “bust” jangan membangun. Sudah berapa kali sih di jelaskan hal ini?

Ubahlah kebijakan nasional, dan jangan ada senderan ke asing dengan di bungkus istilah foregn direct investment lah, infrastruktur lanjutan lah, utamakan membuat ekonomi “boom” dan membangun boom ekonomi tidak perlu ada modal. Cukup membuat kebijakan ekonomi. Mulai kebuka pikirannya? Ngak ya? Yo wis, saya cari bukaan puasa dulu dah #ketemuJumatdiUpnormalFatmawati #peace